Tentang Lawu dan Cara Mengiklaskan
Saya masih ingat betul dinginnya udara Cemoro Sewu pagi itu. Saya dan tim mulai menyusuri jalur pendakian dengan sangat antusias. Pendaftaran kami lakukan secara online, dan di pos registrasi kami melaporkan identitas dan rencana kapan akan turun, tidak lupa petugas juga membekali kami dengan arahan-arahan yang wajib dan tidak boleh kami lakukan. Jalur awal memang langsung menanjak, bikin napas saya lumayan ngos-ngosan sejak pos pertama. Tapi justru di situlah sensasinya—setiap langkah terasa mengantarkan saya ke dunia yang lebih jauh dari hiruk-pikuk kota, sekaligus memanjakan pikiran saya agar tidak fokus pada pikiran yang menyakitkan. jika dari kalimat ini kalian menangkap saya naik gunung saat sedang patah hati kalian tidak sepenuhnya salah wkwkwk.
ok lanjut ...
Di Pos 3, Cemoro Kandang, saya mulai merasakan tubuh lelah dan kaki terasa lebih berat. Tapi pemandangan terbuka setelahnya perlahan membayar semua penat dengan manjaan mata. Hutan pinus yang menjulang diganti vegetasi lebih rendah, disapa angin yang terasa semakin menusuk tulang, dan kami beristirahat sebentar karena ada salah satu anggota tim kami yang mulai sedikit mual karena lelah.
Tidak lama melanjutkan perjalanan sampai di Sendang Drajat, saya berhenti cukup lama. Ada pendaki lain yang bilang air sendang ini sakral, katanya bisa bikin hati tenang. Saya cuma basuh muka, tapi anehnya memang terasa segar—seolah Lawu sengaja memberi hadiah kecil sebelum tanjakan terakhir.
Malam itu, saya bermalam di dekat Hargo Dalem. Tidak jauh dari sana, ada warung legendaris Mbok Yem, dan ya ... kami lagi dan lagi menikmati apa yang ada di sana, kali ini saya yang mendahului rekan lain untuk angsung menyerbu warung Mbok Yem wkwkwk, mau bagaimanapun mumpung ada makanan batinku hahaha sekalipun kami juga bawa logistik yang cukup tadinya tapi bisa jadi akan terasa beda, kalau ada yang mudah ngapain cari ribet hahah. Kata orang kalau ke Lawu belum mampir ke mbok Yem itu belum afdhol. Sungguh luar biasa, makan mi rebus di ketinggian 3.000 meter, ditemani teh panas dan cerita dari sesama pendaki. Rasanya sederhana, tapi begitu hangat.
Pukul tiga dini hari, saya nekat melakukan summit attack. Lampu-lampu senter di jalur terlihat seperti bintang berjalan. Angin kencang, udara tipis, tapi semua terbayar saat akhirnya saya berdiri di puncak Hargo Dumilah (3.265 mdpl). Di depan mata, lautan awan berwarna keemasan diterpa cahaya matahari pertama.
"Tidak mudah sampai disini, terima kasih Lawu telah mengizinkan kaki saya menapak disini." Ucap saya kala itu.
Setelah sekian lama di puncak, yang kami gunakan untuk istirahat, dan asik swa—foto untuk di pamerkan di media sosial. Akhirnya tim mengajak untuk turun.
Turun dari Lawu, saya merasa lebih lega, lebih tenang karena mungkin semua pikiran saya tinggalkan di puncak(misalnya). Setiknya saya sedikit lupa dan dapat mengalihkan pikiran saya, bukan saya yang menaklukkan lawu, tapi lawu yang sudah mengizinkan saya berkunjung, saya tidak sekedar dapat pemandangan surga, atau bisa basuh muka dengan tirta suci, tapi dari sana saya juga menaklukan ego diri saya sendiri. Lawu mengajarkan saya bahwa perjalanan bukan soal seberapa cepat sampai puncak, tapi seberapa dalam kita menikmati setiap langkahnya.

.webp)
.webp)

.webp)
.webp)
.webp)
Komentar
Posting Komentar